Mengapa Harus KMD? : Menambah peluang memperoleh nilai yang baik bagi mahasiswa keguruan yang melaksanakan praktik mengajar (PPL)

24 Juni 2019

Pada serial / artikel sebelumnya kita telah membahas manfaat mengikuti KMD sebagai bekal dalam praktik mengajar, kini kita akan sedikit sharing tentang manfaat yang kita peroleh selaku mahasiswa yang melaksanakan praktik mengajar apabila kita memiliki bekal yang cukup untuk sebagai Pembina pramuka

Sedikit kami ceritakan perbedaan mahasiswa praktikan yang berperan aktif membantu kegiatan ekstrakurikuler pramuka di sekolah dasar (SD sederajat) dan Sekolah Menengah (SMP Sederajat). Dimulai dari paying hukum penyelenggaraan gerakan pramuka yaitu AD/ART Gerakan Pramuka menyebutkan bahwa jenjang pendidikan kepramukaan peserta didik pramuka dimulai dari Golongan Siaga (7-10 tahun), Golongan Penggalang (11-15 tahun), Golongan penegak (16 – 20 tahun) dan Pandega (21-25 tahun). Praktik mengajar yang dilakukan mahasiswa biasanya dilaksanakan di tingkat SD / MI Sederajat dan SMP/MTs sederajat. Artinya peserta didik pada tingkat SD dan SMP memiliki rentan umur antara 7 – 15 tahun.

Pada tingkat SD, ada dua golongan yang idealnya diberlakukan di sekolah yaitu golongan Siaga (kelas 1-4) dan golongan Penggalang (kelas 5-6) yang kesemuanya dialatih / didik oleh Pembina dan pembantu Pembina yang memang sudah diberikan tugas untuk membina peserta didik di pangkalan tersebut. Nah, hal ini berbeda untuk tingkat SMP. Di tingkat ini idealnya hanya ada satu golongan yaitu Golongan Penggalang (kelas 7-9) karena pada tingkatan ini peserta didik di jenjang pendidikan SMP berkisar antara rentan umur 13-15 tahun. kemudian pola pembinaan / pendidikan di tingkat SMP ini porsi Pembina dan pembantu Pembina terbantu oleh adanya Dewan Penggalang. Dewan penggalang umumnya diambilkan dari Peserta didik pramuka di kelas 8 dan 9. Pola pendidikannya pun menggunakan pola pendidikan remaja sebaya, yaitu Dewan Penggalang dari kelas 8 belajar memberikan materi untuk adik adik menereka di kelas 7. Hal ini bertujuan untuk melatih peserta didik pramuka agar dapat tampil didepan kelas untuk melatih kemampuan berbicara didepan adik adik kelas mereka. Kemudian untuk dewan penggalang dari kelas 9 bertugas untuk membimbing dan mengarahkan adik adik mereka yang kelas 8.  Hal ini juga mengingat peserta didik kelas 9 diharuskan untuk melaksanakan persiapan ujian nasional.

Dari penjelasan diatas dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa porsi membina peserta didik pramuka di pangkalan SD dengan SMP oleh mahasiswa berbeda. Di tingkat SD, mahasiswa harus dibekali oleh cara cara membina pramuka Siaga dan Penggalang. Sedangkan di tingkat SMP, mahasiswa harus memiliki bekal membina pramuka penggalang. Perbedaan lainnya adalah mahasiswa yang praktik di SD harus membantu Pembina secara penuh dalam kegiatan pramuka. Sedangkan di tingkat SMP, mahasiswa terbantu dengan adanya Dewan Penggalang, yang memang sudah dipersiapkan oleh Pembina untuk memberikan materi kepada adik kelas mereka. Maka untuk tingkat SMP, mahasiswa praktikan diberdayakan untuk membina dewan penggalang baik kelas 8 maupun 9.

Uraian diatas adalah gambaran saat mahasiswa praktikan membantu pelaksanaan pembinaan pramuka yang rutin. Tidak menutup kemungkinan mahasiswa dimintai tolong untuk melaksanakan perencanaan kegiatan perkemahan atau lomba pramuka. Banyak kemungkinan yang dapat terjadi saat mahasiswa melaksanakan praktik mengajar. Maka idealnya seorang mahasiswa praktikan harus memiliki kemampuan yang memadai saat membantu melaksanakan kegiatan pramuka. Mengingat pengembangan kegiatan kepramukaan banyak, maka kemampuan yang harus dicapai oleh mahasiswa juga harus banyak dan mumpuni.

Ingat sekali lagi kak, bahwa dalam pelaksanaan praktik mengajar, mahasiswa praktikan banyak diberdayakan  oleh sekolah untuk membantu melaksanakan kegiatan sekolah diluar kegiatan belajar mengajar. Dalam praktiknya, mahasiswa dinilai dan bimbing oleh guru pamong, dan guru pamong diambilakan sesuai dengan kualifikasi mahasiswa yang sedang praktik disana. Contoh mahasiswa pendidikan PAI, akan di bimbing oleh guru PAI sebagai guru pamong. Dan tidak menutup kemungkinan guru pamong yang membimbing kita adalah seorang Pembina pramuka. Apabila ini terjadi, maka dapat dipastikan bahwa mahasiswa praktikan pasti diwajibkan untuk membantu pelaksanaan kegiatan keparamukaan di sekolah tempatnya bertugas. Ditugaskannya mahasiswa praktikan dalam kegiatan kepramukaan disekolah dapat meningkatkan kesempatan mahasiswa untuk mendapatkan nilai tambahan oleh guru pamong. Dan apabila mahasiswa tidak aktif membantu sekolah dalam kegiatan sekolah, dapat dimungkinkan guru pamong tidak dapat memberikan nilai tambah kepada mahasiswa.

Pelaksanaan kegiatan praktik mengajar selalu memberdayakan mahasiswa khususnya untuk membantu pelaksanaan ekstrakurikuler pramuka. Maka mahasiswa perlu membekali dirinya dengan keterampilan untuk membina Pramuka.

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree